Visi dan Misi IMAHA (Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto)

Visi dan Misi IMAHA (Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto)

I. Doktrin Perjuangan
IMAHA (Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto) dalah Ormas (Organisasi Kemasyarakatan). Doktrin perjuangan IMAHA berorientasi pada program (program oriented) dan atau pemecahan masalah (problem solving), bukan berorientasi pada aliran atau ideologi (ideology oriented)
Dengan perspektif ini ingin ditegaskan bahwa IMAHA berdiri di semua kelompok dan semua golongan tanpa adanya perbedaan. Pembelahan masyarakat berdasarkan ideologi atau aliran-aliran dikhawatirkan akan melahirkan konflik-konflik ideologi yang bermuara pada pertentangan, perpecahan, dan malah disintegrasi bangsa.
Dengan orientasi ini maka masyarakat tidak akan terjebak dalam pertentangan atau konflik ideologi yang tidak perlu, melainkan berorientasi pada karya untuk membangun bangsa. Bagi IMAHA karya yang baik dan bermanfaat bagi seluruh rakyat adalah lebih penting daripada ide atau gagasan semata. Karya kekaryaan adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis, dan menyeluruh, untuk mendatangkan manfaat bagi rakyat. Karya kekaryaan adalah juga amal shalih dalam pengertian yang luas sebagaimana yang diajarkan agama-agama.
Oleh karena doktrin inilah IMAHA akan senantiasa prihatin menyaksikan kehidupan politik yang ditandai oleh maraknya persaingan tidak sehat di antara berbagai partai politik Ormas yang membawa terjadinya konflik dan pertentangan politik yang tajam. Masing-masing partai politik dan Ormas berusaha memobilisasi dukungan massa bagi kepentingan sempit, sehingga kepentingan bangsa yang lebih luas terabaikan. Sebagai akibat dari kecenderungan tersebut, Bangsa Indonesia kehilangan momentum untuk membangun diri guna mewujudkan cita-cita proklamasi.
Kegandrungan (euphoria) untuk menjadikan politik sebagai panglima kehidupan dan menekankan ideologi politik sektarianistik, seperti pada pengalaman lama, telah menghambat proses mensejahterakan rakyat. Sebagai akibatnya rakyat terjerembab ke dalam kemiskinan dan keterbelakangan dalam suasana ketidakpastian politik.
Dalam suasana seperti itulah IMAHA tampil dengan doktrin karya kekaryaan karena tidak ingin bangsa ini terpecah ke dalam kotak-kotak sempit yang hanya akan mengancam keutuhan bangsa.

II. Visi
Sejalan dengan cita-cita Para Bapak Pendiri Negara (the founding fathers) kita bahwa tujuan kita bernegara adalah melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan ikut menciptakan perdamaian dunia, maka IMAHA sebagai pengemban cita-cita proklamasi menegaskan visi perjuangannya untuk menyertai perjalanan bangsa mencapai cita-citanya.
IMAHA berjuang demi terwujudnya Indonesia baru yang maju, modern, bersatu, damai, adil dan makmur dengan masyarakat yang beriman dan bertaqwa, berahlak baik, menjunjung tinggi hak asasi manusia, cinta tanah air, demokratis, dan adil dalam tatanan masyarakat madani yang mandiri, terbuka, egaliter, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja dan semangat kekaryaan, serta disiplin yang tinggi.
Dengan visi ini maka IMAHA hendak mewujudkan kehidupan rakyat yang makmur melalui pelaksanaan agenda-agenda yang diarahkan untuk melakukan serangkaian koreksi terencana, melembaga dan berkesinambungan terhadap seluruh bidang kehidupan. Reformasi pada sejatinya adalah upaya untuk menata kembali sistem kenegaraan kita di semua bidang agar kita dapat bangkit kembali dalam suasana yang lebih terbuka dan demokratis. IMAHA berupaya mewujudkan kehidupan yang bertumpu pada kedaulatan rakyat adalah cita-cita sejak kelahirannya.
Keterbukaan adalah nilai kemanusiaan hakiki yang merupakan nafas dari gerakan reformasi. Atas dasar pandangan keterbukaan tersebut, kita harus menciptakan sistem kehidupan yang terbuka atau transparan dengan struktur dan proses yang dapat secara efektif benar-benar mencerminkan kedaulatan rakyat. Untuk itu maka peluang bagi rakyat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses-proses yang mutlak dibuka seluas-luasnya. Kebebasan untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat semakin terjamin dan dilindungi oleh Undang-Undang.
Sendi utama masyarakat madani adalah supremasi hukum. Oleh karena negara kita adalah hukum maka supremasi hukum harus ditempatkan sebagai pilar utama dalam rangka mewujudkan sistem politik yang demokratis dan berdasarkan hukum. IMAHA memandang bahwa reformasi hukum tidak terbatas hanya pada penyempurnaan sarana dan prasarana, materi dan aparatur hukum, tetapi juga budaya hukum.
Di bidang ekonomilah visi IMAHA adalah ekonomi rakyat atau kerakyatan atas dasar keyakinan bahwa hanya sistem perekonomian inilah yang menjamin rakyat makin sejahtera. Pembangunan ekonomi dalam paradigma lama yang terlampau menekankan pertumbuhan dengan tulang punggung konglomerasi ternyata justru membawa negara dan bangsa Indonesia terjerembab ke dalam krisis ekonomi yang sangat parah. Konglomerasi semu dan sangat rapuh terhadap goncangan ekonomi global. Dalam konteks ini, maka paradigma ekonomi kerakyatan justru memiliki potensi yang sangat kuat bagi penguatan fundamental ekonomi kita.
Dengan visi ekonomi kerakyatan ini, maka usaha kecil, menengah, dan koperasi akan dikembangkan dan diperkuat sebagai pilar utama perekonomian nasional. IMAHA menginginkan di masa depan usaha menengah, kecil dan koperasi menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat dalam pengertian yang sebenarnya. Tanpa upaya-upaya pemberdayaan rakyat, maka tujuan menciptakan masyarakat madani akan semakin jauh dari gapaian kita. Untuk itu sejalan dan searah dengan visi menciptakan kesejahteraan rakyat, perhatian terhadap upaya penguatan usaha menengah, kecil, dan koperasi menjadi prioritas yang paling diutamakan.
Di bidang sosial budaya, IMAHA mencita-citakan penguatan budaya bangsa yang mampu melahirkan bangsa yang kuat, yakni bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi atau keterampilan, memiliki etos kerja yang tinggi, memiliki disiplin sosial yang tangguh dan memiliki etika yang kuat. Untuk menuju terciptanya bangsa yang kuat semacam itu, maka perlu dikembangkan suasana dan iklim yang mendukung bagi berkembangnya budaya ilmu (etos intektualisme), budaya kerja (etos kerja), budaya disiplin, dan budaya hidup etis dan religius di kalangan masyarakat.
IMAHA memandang kerukunan sebagai basis bagi integrasi bangsa. Untuk itu, maka kehidupan sosial budaya yang berkeadilan dan terjembataninya kesenjangan sosial ekonomi antar individu, antar kelompok, antara kota-desa, antara Jawa-luar Jawa, dan antara pusat-daerah, menjadi agenda penting yang harus dipentingkan. Demikian juga halnya pengembangan kehidupan beragama dan kerukunan antarumat beragama menjadi kepedulian IMAHA.
Dengan visi ini pula IMAHA hendak mengembangkan pola hubungan sosial yang lebih harmonis dan dilandasi oleh semangat persamaan manusia. Pandangan yang diskriminatif dan tidak adil terhadap suatu kelompok tertentu harus dihapuskan dari segenap masyarakat kita, dan diganti dengan pandangan yang diliputi oleh semangat kekeluargaan, kebersamaan dan persaudaraan sejati antara warga negara.

III.Misi
Dalam rangka mengaktualisasikan doktrin dan mewujudkan visi tersebut IMAHA dengan ini menegaskan misi perjuangannya, yakni: menegakkan, mengamalkan, dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa demi untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan mewujudkan cita-cita Proklamasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional di segala bidang untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis, menegakkan supremasi hukum, mewujudkan kesejateraan rakyat, dan hak-hak asasi manusia.
Dalam rangka membawa misi mulia tersebut IMAHA melaksanakan fungsi-fungsi sebagai sebuah Ormas moderen, yaitu:
Pertama: mempertegas komitmen untuk menyerap, memadukan, mengartikulasikan, dan memperjuangkan aspirasi serta kepentingan rakyat sehingga menjadi kebijakan yang bersifat publik.
Kedua, melakukan rekruitmen kader-kader yang berkualitas melalui sistem prestasi(merit system) untuk dapat dipilih oleh rakyat menduduki posisi-posisi politik atau jabatan-jabatan publik. Dengan posisi atau jabatan politik ini maka para kader dapat mengontrol atau mempengaruhi jalannya pemerintahan untuk diabdikan sepenuhnya bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
Ketiga, meningkatkan proses pendidikan dan komunikasi politik yang dialogis dan partisipatif, yaitu membuka diri terhadap berbagai pikiran, aspirasi dan kritik dari masyarakat.

IV. Platform
Platform yang dimaksudkan di sini adalah landasan tempat berpijak, yaitu wawasan-wawasan yang menjadi acuan dan arah dari mana dan ke mana perjuangan IMAHA hendak menuju. Platform merupakan sikap dasar dalam menyertai bangsa membangun masa depan.
IMAHA berpijak pada landasan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai konsekuensi dari pijakan ini maka IMAHA berwawasan kebangsaan, yaitu suatu wawasan bahwa bangsa Indonesia adalah satu dan menyatu.
Wawasan kebangsaan adalah cara pandang yang mengatasi golongan dan kelompok baik golongan atau kelompok atas dasar agama, suku, etnis, maupun budaya. Kemajemukan atau pluralisme tidak dipandang sebagai kelemahan atau beban, melainkan justru sebagai potensi atau kekuatan yang harus dihimpun secara sinergis dan dikembangkan sehingga menjadi kekuatan nasional yang kuat dan besar. Kemajemukan bagi IMAHA adalah anugerah Tuhan yang karena itu bersifatgiven. Kemajemukan inilah yang selama ini justru telah membentuk mozaik keindonesiaan yang sangat indah dan mempesona sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan platform ini maka IMAHA terbuka bagi semua golongan dan lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang etnis, suku, budaya, bahasa, agama, dan status sosial ekonomi. Keterbukaan IMAHA diwujudkan secara sejati, baik dalam penerimaan anggota maupun dalam rekruitmen kader untuk kepengurusan dan penempatan pada kehidupan bermasyarakat.
IMAHA mengembangkan wawasan kemajemukan yang inklusif yang mendorong dinamika dan persaingan yang sehat serta berorientasi pada kemajuan serta senantiasa siap berkompetensi secara sehat. Perwujudan dari wawasan kebangsaan IMAHA adalah sikap keterbukaan dan kemajemukan. IMAHA berpijak pada wawasan keterbukaan (inklusif) yang menampung kemajemukan (pluralis) karena hadirnya kesadaran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk.
Berdasarkan wawasan ini pula IMAHA bersifat nondiskriminatif dan nonsektarian baik atas dasar perbedaan suku atau etnis, agama, bahasa, budaya, maupun aliran. IMAHA menolak segala bentuk eksklusivisme baik atas dasar primordialisme maupun kepentingan yang sempit lainnya. Sikap-sikap tersebut terakhir ini tidak sejalan dengan wawasan kemajemukan dan keterbukaan.
Hadirnya kesadaran bawa kemajemukan merupakan ciri keindonesiaan telah mengokohkan dan mengukuhkan tekad IMAHA untuk tetap menjadi “Ormas yang paling Indonesia” yang menjadi “miniatur Indonesia”, dimana semua golongan akan merasa kerasan (at home) berada di dalamnya. Dalam rangka itulah, maka IMAHA memantapkan platform-nya sebagai Ormas yang nonaliran atau nonsektarian. Dengan prinsip ini sikap IMAHA bukanlah politik aliran atau sektarian.
IMAHA menjunjung tinggi ajaran agama yang dalam gerak langkahnya senantiasa mendasarkan pada nilai-nilai etika dan moralitas berdasarkan ajaran agama. Etika dan moralitas adalah saripati dari ajaran agama dan buah dari keberagaman itu sendiri. Bagi IMAHA agama menduduki posisi yang sangat penting dan harus diutamakan. Dengan demikain seluruh langkah perjuangan senantiasa dilandasi nilai-nilai etika dan moralitas berdasarkan agama.
Perpaduan antara kedua wawasan yang terakhir –wawasan kebangsaan dan keagamaan– menjadikan IMAHA sebagai Ormas kebangsaan yang menjunjung tinggi ajaran agama-agama. Dengan menjunjung tinggi ajaran agama, IMAHA tidak berarti sependapat dengan kecenderungan formalisasi dan apalagi politisasi agama. IMAHA menghindarkan kecenderungan memanipulasi simbol-simbol agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan-tujuan politik yang berdimensi jangka pendek.
IMAHA adalah Ormas yang demokratis yang memiliki komitmen pada demokrasi. Dalam masyarakat yang demokratis dan terbuka maka hanya IMAHA yang demokratis dan terbuka pula yang akan mendapatkan dukungan rakyat. Dengan kata lain, IMAHA hanya akan bertahan dan berjaya, jika dalam tubuh organisasinya sendiri tegak kehidupan yang demokratis, dan berjuang untuk demokrasi.
IMAHA adalah Ormas Moderat yang senantiasa mengambil posisi tengah dan menempuh garis moderasi. IMAHA tidak akan pernah bersikap ekstrim, baik kini, maupun mendatang. Sebagai Ormas Moderat, IMAHA akan konsisten mengembangkan wawasan tengahan dan keseimbangan. Sikap tengahan atau moderat akan menghindarkan IMAHA dari kemungkinan terjebak pada pilihan-pilihan yang bersifat pemutlakan nilai.
Garis moderasi IMAHA mengandung arti bahwa ia senantiasa mewujudkan keseimbangan dari tarik menarik berbagai kepentingan, dan sebaliknya berupaya untuk mengakomodasi dan mengharmonisasikannya. Dengan demikian, IMAHA senantiasa berada pada posisi tengahan (median position) dan menjadi kekuatan penengah (mediating and moderating force) di antara semua kelompok potensi bangsa. IMAHA mengembangkan prinsip nonsektarian dan anti sektarianisme, dan karena itu juga nondiskriminasi dan antidiskriminasi.
Pilihan terhadap sikap moderat ini bukan hanya berkaitan erat dengan platform terbuka dan majemuk yang sebelumnya kita bicarakan, melainkan jauh lebih mendasar, yaitu karena hadirnya kesadaran akan kebenaran ajaran bahwa sebaik-baik perkara adalah yang tengah.
Selanjutnya, IMAHA mengutamakan pembangunan hukum untuk keadilan dan tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam kerangka ini, maka harus diupayakan tegaknya supremasi hukum karena Indonesia adalah negara hukum. Lebih daripada itu, supremasi hukum harus ditempatkan sebagai pilar utama dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang demokratis, konstitusional dan berdasarkan hukum. IMAHA memandang bahwa reformasi hukum tidak terbatas hanya pada penyempurnaan sarana dan prasarana, materi dan aparatur hukum, tetapi juga pembangunan budaya hukum. Penegakan dan pemajuan HAM merupakan unsur penting dalam penghormatan harkat dan martabat kemanusiaan.
Dalam rangka penghormatan harkat dan martabat kemanusiaan pula IMAHA memandang peningkatan kesejahteraan rakyat sebagai salah satu tujuan nasonal kita yang utama. Perjuangan IMAHA bermuara pada untuk meningkatkan pada kesejahteraan rakyat lahir dan batin. Dalam kaitan ini IMAHA memandang perjuangan politik sebagai instrumen dan manajemen untuk mewujudkan masyarakat madani yang sejahtera, adil dan makmur. Peningkatan kesejahteraan itu diwujudkan dalam bentuk antara lain peningkatan taraf hidup dan kecerdasan rakyat. Dengan sikap ini, maka IMAHA mempertegas keberpihakannya kepada rakyat.
Pokok-Pokok Program Perjuangan
Dalam rangka mengaktualisasikan platform tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, IMAHA bukan hanya mengembangkan wawasan kebangsaan atau nasionalisme semata, melainkan juga mengutamakan upaya mewujudkan keadilan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya bagi semua daerah. Perwujudan keadilan adalah bagian utama dari program perjuangan IMAHA untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
IMAHA akan terus berjuang untuk memberdayakan masyarakat di daerah di segala bidang; menghormati dan menghargai upaya-upaya pelestarian budaya lokal; mendorong otonomi daerah secara nyata; dilaksanakannya perimbangan keuangan pusat dan daerah; mengatasi segala bentuk konflik horizontal dan vertikal; dan mengatasi segala bentuk upaya pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk memantapkan wawasan kebangsaan maka IMAHA berjuang untuk memperkokoh segenap potensi bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa; memelopori segala upaya penguatan kesatuan dan persatuan; mengembangkan rasa cinta tanah air dan kebangsaan; membangun citra bangsa yang positif di mata internasional; dan mencegah berkembangnya nasionalisme sempit.
Dalam rangka merealisasikan platform sebagai partai terbuka dan majemuk IMAHA berjuang untuk mengembangkan dan membudayakan wawasan keterbukaan (inklusifisme) dan kemajemukan (pluralisme) dalam tubuh partai; mengakui dan menghargai kemajemukan latar belakang anggota; dan justru memandang kemajemukan sebagai potensi untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik. IMAHA juga memandang kemajemukan bangsa sebagai potensi mozaik keindonesiaan yang justru memperkokoh integrasi bangsa. Dalam kaitan ini pula maka upaya utnuk memperkokoh integrasi bangsa. Dalam kaitan ini pula maka upaya untuk memperkokoh keberadaan IMAHA sebagai Ormas Kebangsaan terus ditingkatkan.
Dalam rangka mengembangkan demokrasi baik secara struktural maupun kultural maka IMAHA berjuang untuk terciptanya sistem dan format politik yang di dalamnya berjalan mekanisme kontrol dan keseimbangan (check and balance); mendorong terbukanya ruang partisipasi politik; memberdayakan lembaga-lembaga demokrasi; membangun kehidupan pers yang bebas yang ikut melaksanakan pendidikan politik bagi rakyat; dan mendorong partisipasi lembaga-lembaga swadaya masyarakat.
Sebagai Ormas yang berwawasan kesejahteraan rakyat maka IMAHA berjuang untuk mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan, yakni sistem ekonomi yang berpihak pada usaha kecil, menengah, dan koperasi tanpa menafikan tumbuhnya sistem ekonomi konglomerasi yang tidak monopolistik; mengusahakan ketersediaan bahan kebutuhan pokok rakyat dengan harga yang serba terjangkau; mengurangi pengangguran dengan perluasan lapangan kerja; memperjuangkan upah minimum regional (UMR) yang memadai, dan jaminan kerja; serta meningkatkan akses ekonomi rakyat.
Untuk menciptakan supremasi hukum, keadilan dan tegaknya HAM maka IMAHA bertekad memberdayakan lembaga-lembaga peradilan, mengupayakan penyelesaian kasus pelanggaran HAM, serta terus memperbaharui produk-produk hukum yang bertentangan dengan demokrasi, hak asasi manusia dan rasa keadilan masyarakat.
Akhirnya, sebagai Ormas yang menjunjung tinggi ajaran agama-agama dan memegang teguh etika dan moralitas agama, IMAHA dengan kesadaran penuh berusaha mendorong upaya membentuk manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. IMAHA berjuang untuk menjadikan agama sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta terus membangun karakter bangsa berdasarkan ajaran agama.
IMAHA mendorong pengembangan kehidupan beragama. Pengembangan kehidupan beragama diarahkan pada terciptanya kesemarakan kehidupan beragama baik secara lahiriah maupun batiniah, sekaligus terciptanya kerukunan hidup antar umat beragama. Sebagai partai yang menjunjung tinggi ajaran agama, IMAHA selalu mengajak umat beragama untuk menghindarkan diri dari kecenderungan politisasi agama, yakni menjadikan simbol-simbol keagamaan sebagai alat untuk tujuan-tujuan politik yang terbatas.

I.Modal Perjuangan
Sebagai Ormas modern IMAHA memiliki potensi atau kekuatan yang dapat dijadikan modal perjuangan dalam rangka merealisasikan doktrin, visi, misi, platform, dan pokok-pokok program perjuangan.

II.Penutup
Sesuai dengan visi dan misi IMAHA pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh segenap kader IMAHA harus menggunakan pendekatan yang simpatik yang mendorong partisipasi, prakarsa, dan kreativitas rakyat.
Dengan demikian diharapkan IMAHA mampu untuk selalu menyertai perjalanan bangsa mewujudkan visi perjuangannya sesuai dengan cita-cita proklamasi. Tuhan Yang Maha Esa, insya Allah, akan menyertai perjuangan IMAHA. Amin.

email: imaha_indonesia@yahoo.com

Readers Comments (1)




Spam protection by WP Captcha-Free

-->