Pembobolan Bank Masih Akan Terulang?
Muabaca.com: Aksi pembobolan bank melalui Personal Idenfication Numbers (PIN) di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di sejumlah bank mengakibatkan dana nasabah terkeruk Rp5 miliar.
Jumlah nilai pembobolan itu belum begitu “mengkhawatirkan”, namun yang patut dipertanyakan adalah apakah aksi tersebut akan kembali terulang, mengingat pelaku pembobolan bank itu oleh orang asing yang ” didukung” oran Indonesia..
Pembobolan yang melibatkan orang asing itu menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan bank-bank saat ini sudah tertinggal sehingga perlu mencari teknologi baru yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan nasabah yang menempatkan dananya di bank.
Karena itu, Bank Indonesia (BI) telah meminta perbankan untuk segera membenahi diri lebih baik terhadap kios ATM-nya dengan peralatan yang canggih seperti menggunakan kamera pelacak dan mengubah nomor pin dengan kartu Chip yang tidak dapat dipantau oleh orang lain yang ingin berbuat kejahatan.
BI juga telah melakukan kerja sama dengan perbankan dan kepolisian agar kejahatan pembobolan bank dapat diatasi sedini mungkin. Aksi pembobolan terjadi terhadap enam bank lokal antara lain Bank BCA, Bank BNI, dan Bank BRI telah menunjukkan bahwa perbankan harus terus menata diri mencari alternatif yang terbaik bagi kenyamanan nasabah.
Pengamat perbankan, Kostaman Thayib mengatakan, para nasabah bank diimbau agar secara rutin mengganti nomor rahasia pribadi (PIN) dan menutup angka saat memasukkan nomor tersebut, kemudian memasukkan nomor PIN lain yang salah untuk mengecoh.
Upaya rutin mengganti nomor PIN itu untuk mengantisipasi kejahatan yang dilakukan oleh suatu sindikat yang profesional, kata Kostaman di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, perbankan ke depan harus membuat kartu chip yang sulit dilacak oleh para pelaku kejahatan yang berusaha menguras dana nasabah yang ditempatkan di bank melalu ATM.
“Kami minta nasabah tetap tenang dan berhati-hati dalam melakukan transaksi perbankan khususnya dalam menggunakan kartu ATM,” katanya.
Bank Indonesia, lanjut dia juga telah melakukan koordinasi dengan perbankan serta kepolisian untuk menuntaskan permasalahan tindak pidana tersebut.
BI juga meminta perbankan untuk kembali mengevaluasi dan mendeteksi seluruh mesin ATM termasuk EDC (Electronics Data Capture) yang terdapat di berbagai lokasi untuk memastikan tidak adanya penyalahgunaan atas mesin-mesin tersebut.
Selain itu pihaknya menghimbau para nasabah untuk meneliti dan memperhatikan kondisi saat ini menggunakan mesin ATM maupun EDC dan memastikan bahwa di mesin tersebut tidak terdapat tambahan alat lain, tuturnya.
Menurut Kostaman , pembobolan rekening bank selain dilakukan warga negara Indonesia juga warga negara asing yang bekerja sama dalam melakukan modus operasi.
Pembobolan rekening pada umumnya melalui ATM dan internet banking, perbankan diperkirakan akan mempercepat proses anti “skimming” di setiap ATM. “ATM hendaknya dilengkapi dengan teknologi mutakhir anti kejahatan skimming,” katanya.
Selain itu juga mengintensifkan pengawasan dan “sweeping” pada mesin-mesin ATM untuk melakukan deteksi dini atas kejadian yang tidak diinginkan.
Bank BRI misalnya mengalami kerugian sebesar Rp48,5 juta dari tiga nasabahnya. “Tiga nasabah itu dari BRI Kuta, BRI Renon dan BRI Ubud,” kata Sekretaris Perusahaan PT Bank BRI, Muhammad Ali.
Berdasarkan penulusuran “task force” (tim kerja) yang dipimpin oleh Kadiv Operasional BRI Triana, kata Ali, transaksi dilakukan dari Moskow ,Rusia dan Toronto Kanada. “Saat transaksi terjadi ketiga nasabah BRI yang rekeningnya dibobol,” katanya.
Ali mengatakan “task force” melakukan penelitian dan jika memang transaksi tersebut tidak dilakukan nasabah yang bersangkutan. Kerugian akan ditanggung BRI dengan cara mengembalikan saldo rekening pada posisi seperti belum transaksi, kata Ali. Tim memperkirakan data ATM maupun rekening diperoleh pelaku dari Bali, dan kemungkinannya data tersebut dikirim ke Toronto dan Moskow.
“Disana pelaku menggunakan untuk menerbitkan ATM baru dan digunakan di ATM Cirrus,” jelasnya. Ali mengatakan bahwa bukti ini terlihat dari penelusuran tim bahwa transaksi dilakukan oleh pelaku melalui ATM Cirrus baik yang di Moskow maupun Toronto.
Triana menambahkan kemungkinan besar penerbitan ATM dilakukan di luar negeri karena di Indonesia hanya ada penerbit yang sudah disahkan sehingga tidak mungkin menerbitkan kartu secara ilegal.
Ketika ditanya pengamanannya seusai kasus ini, Ali mengatakan melibatkan dua pihak yaitu bank nasabah. Bank BRI akan menambah jumlah CCTV, sehingga jika ada orang yang masuk ke bilik ATM tetapi tidak melakukan transaksi gampang dideteksi melakukan kejahatan, misal memasang kartu pengintai atau alat “skimmer” yang dipakai untuk merekam data. Tetapi, lanjut Ali, perlu diingat bahwa transaksi bisa dilakukan nasabah di ATM selain BRI, misal di ATM bersama atau jaringan Prima.
Selain itu , Bank BNI juga akan mengganti uang 19 nasabah yang mengalami kerugiaan akibat pembobolan ATM senilai Rp200 juta. “Kami pastikan membayar kerugian 19 nasabah sekitar Rp200 juta,” kata Wakil Direktur Utama Felia Salim. Menurut Felia, penggantian uang nasabah ini setelah dilakukan identifikasi dan verifikasi apakah kehilangannya akibat pembobolan atau diambil sendiri.
Berdasarkan verifikasi, kejadian tersebut hanya terjadi di daerah Denpasar, dari 86 mesin ATM BNI hanya ada dua mesin yang terjadi pembobolan.
Dia juga mengatakan bahwa dengan kejadian tersebut pihaknya akan mempercepat proses anti “skimming” di setiap ATM. “Sudah 70 persen ATM kami telah dilengkapi dengan teknologi mutakhir anti kejahatan `skimming`,” katanya.
Selain itu, BNI juga akan mengintensifkan pengawasan dan “sweeping” padamesin ATM untuk melakukan deteksi dini atas kejadian yang tidak dinginkan. BNI sampai saat ini memiliki 4.000 ATM dan ditambah 10 ribu ATM link serta 15 ribu ATM bersama.
Felia juga menegaskan bahwa kejahatan “skimming” ini merupakan modus baru kejahatan pembobolan ATM. “Ini baru kasus pertama hingga saat ini, karena pada tahun sebelumnya belum ada,” tegas Felia.
Sementara itu, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengimbau nasabah yang kehilangan tabungannya untuk melaporkan kepada polisi. “Bisa cek dulu sekarang, kalau ada penarikan yang mencurigakan segera laporkan,” kata Ito di Mabes Polri, Jakarta Selatan.
Ito mengatakan, ada dua nasabah bank yang melaporkan dana rekeningnya hilang setelah diperiksa melalui mesin ATM yang berdomisili di Jakarta.
Kabareskrim mendapatkan laporan dari temannya yang kehilangan dana tabungan sebesar Rp70 juta, penyidik melacak pelaku membobol dana rekening sebanyak beberapa kali penarikan melalui mesin ATM di daerah Seminyak, Bali.
Jenderal Polisi bintang tiga itu memperkirakan jumlah nasabah yang menjadi korban pembobolan dana rekening akan semakin bertambah karena pelaku melakukan banyak penarikan.
Ito mengungkapkan, nasabah yang melaporkan kehilangan dana tabungannya akan membantu penyidik melakukan langkah untuk mempelajari modusnya.
Sebelumnya, sejumlah nasabah melaporkan kehilangan dana tabungannya kisaran Rp1 juta hingga Rp5 juta pada Bank Mandiri, BCA, BNI, BRI, BII dan Bank Permata di wilayah Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu. “Kebanyakan korban berasal dari BCA,” ujar Ito.
Polisi sudah mengantongi modus operandi yang dilakukan pelaku berdasarkan penyelidikan sementara, saat ini penyidik berupaya mendalami kasusnya dan memburu para pelakunya yang diduga masih berada di sekitar Bali.
Karena itu , Kabreskrim akan mengundang badan otoritas perbankan dan pihak terkait untuk membuat dan memasang alat pengamanan pada mesin ATM.
“Kita akan undang otoritas perbankan untuk membuat suatu pengamanan sehingga tidak ada yang menitipkan kode rahasia kartu ATM,” kata Ito.
Ito menjelaskan alat pengamanan mesin otomatis penarikan uang tunai itu, seperti memasang alat pemindai sidik jari untuk bisa mengaksesnya sehingga tidak ada proses menitipkan kode rahasia kartu ATM yang berpotensi merugikan nasabah.
Sebelumnya, sejumlah nasabah yang berasal dari Bank Mandiri, BCA, Bank Permata, BII, BRI dan BNI melaporkan kehilangan uang pada rekeningnya kisaran Rp1 juta hingga Rp5 juta per orang.
Para nasabah itu melaporkan kasus berkurangnya jumlah dana pada rekeningnya kepada Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Denpasar, beberapa hari lalu.
Kemudian Bareskrim menurunkan satu tim dari Direktorat II Ekonomi Khusus untuk mengungkapkan kasus hilangnya uang tabungan para nasabah enam bank besar tersebut.
Ito mengungkapkan penyidik kepolisian bersama pihak bank melakukan menyelidikan untuk mengungkap kasus itu melalui proses audit sistem pengamanan ATM pada setiap bank itu.
Terkait tanggung jawab bank terhadap hilangnya uang para nasabah, Ito menuturkan pihak bank bersedia memberikan jaminan penggantian agar tidak terjadi kehilangan kepercayaan dari nasabah.
Mantan Kapolda Sumatera Selatan itu menyatakan polisi juga menyampaikan beberapa kelemahan pada sistem yang berpotensi dimanfaatkan pelaku untuk membobol dana nasabah melalui mesin ATM.
Bila Anda punya naskah/artikel silakan kirim ke redaksi@maubaca.com. Jika diambil dari tempat lain jangan lupa sebut sumbernya. Akan segera kami tampilkan. Trima kasih.