Ini Dia Yang Untung dan Rugi Akibat Pemanasan Global
MAUBACA.com: Pemanasan global menjadi berita baik buat pepohonan, yang dapat hidup pada temperatur yang lebih tinggi dan masa tumbuh yang lebih lama, tapi berita buruk buat itik serta unggas air, yang habitat tanah basahnya bisa kering dan hilang.
Satu studi oleh para peneliti di Smithsonian Environmental Research Center (SERC) di Maryland menunjukkan temperatur yang lebih tinggi, masa tumbuh yang lebih lama, dan tingkat karbon dioksika yang meningkat yang disebabkan oleh perubahan iklim membantu pohon pada iklim sedang untuk tumbuh lebih cepat.
Para peneliti tersebut mengkaji data mengenai jumlah pohon di 55 hutan di bagian timur Amerika Serikat selama masa 22 tahun, serta 100 tahun pengukuran cuaca setempat dan 17 tahun pengukuran karbon dioksida.
Temuan mereka, yang disiarkan pekan pertama Februari di Proceedings of National Academy of Science (PNAS), memperlihatkan, pertumbuhan pohon baru-baru ini “sangat melampaui pertumbuhan yang diperkirakan” dan mereka memperkirakan bahwa dorongan itu disebabkan oleh perubahan iklim.
“Peningkatan temperatur, masa tumbuh dan CO2 atmosfir telah memiliki pengaruh pada pertumbuhan, metabolisme, dan kondisi pohon, dan kelihatannya semua pohon tersebut sangat kritis terhadap tingkat perubahan … pertumbuhan yang diamati,” kata studi itu.
Peningkatan temperatur telah menaikkan proses metabolis pohon dan menambah musim tumbuhnya, sementara tingkat karbon dioksida yang lebih tinggi di atmosfir dapat mendorong pertumbuhan pohon melalui fertilisasi karbon, kata studi itu.
Namun buat itik dan keluarga unggas air lainnya, peningkatan temperatur adalah berita buruk, demikian hasil satu studi lain yang dilakukan oleh para peneliti dari US Geological Survey dan South Dakota State University dan disiarkan pekan ini di jurnal BioScience.
Studi itu mendapati bahwa tanah basah padang rumput yang membentang di seluruh lima negara bagian di AS tengah-utara sampai ke Kanada, tempat banyak spesies itik, unggas air dan hewan amfibi mencari makan, berkembang biak serta tinggal, dapat kering jika temperatur naik sebanyak empat derajat celsius.
Satu model yang dikembangkan oleh para peneliti itu untuk berusaha memahami dampak iklim yang lebih hangat terhadap tanah basah memproyeksikan pengurangan utama volume air, perpendekan waktu air berada di tanah basah, dan perubahan sayur-mayur di daerah luas, yang membentang ke seluruh North sampai South Dakota, Minnesota, Montana dan Iowa sampai Kanada.
Jika temperatur naik sebanyak empat derajat celsius, banyak bagian tanah basah Amerika Utara akan menjadi terlalu kering buat unggas air.
Sementara itu banyak bagian lain akan memiliki terlalu sedikit tanah basah yang berfungsi dan habitat sebagai sarang guna mendukung tingkat bersejatah spesies tanah basa, kata W Carter Johnson, seorang penulis studi tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita Prancis, AFP.
Spesies tanah basah memerlukan jumlah waktu minimal di air untuk melengkapi lingkaran hidup mereka. Itik jantan, misalnya, memerlukan sedikitnya 80 hari di air permukaan tanah untuk anak-anaknya tumbuh dan dapat terbang dan bagi itik dewasa untuk bertukar bulu atau menumbuhkan bulu baru.
“Tanah basah padang rumput sangat rentan terhadap perubahan iklim dan kurang ulet dibandingkan yang kami perkirakan sebelumnya. Sulit untuk membayangkan bagaimana tingkat populasi unggas air saat ini pada kondisi cuaca yang berubah,” kata penulis studi tersebut Glenn Guntenspergen dari US Geological Survey.(*)
Bila Anda punya naskah/artikel silakan kirim ke redaksi@maubaca.com. Jika diambil dari tempat lain jangan lupa sebut sumbernya. Akan segera kami tampilkan. Trima kasih.
Readers Comments (0)