Fakta Dulmatin Punya Nyawa Cadangan
MAUBACA.COM: Dulmatin, teroris yang paling dicari di seluruh dunia, terutama oleh otoritas keamanan Filipina, Indonesia dan Amerika Serikat betul-betul seperti kucing yang punya nyawa cadangan. Berkali-kali dinyatakan tewas dalam serangan militer, tetapi ia tetap masih hidup. Terakhir ia ditembak mati di Pamulang, Tangerang oleh tim Densus 88, masihkah ‘kucing’ itu hidup?. Berikut informasikan kematian Dulmatin berkali-kali.
28/01/2005
Dulmatin Tewas Dibom di Filipina
Salah satu buronan terorisme Mabes Polri, Dulmatin, dikabarkan telah tewas dalam serangan udara aparat keamanan Filipina. Demikian dirilis media Australia, The Age mengutip The Australian, Jumat (28/1/2005).
Dilaporkan bahwa pria ahli bom yang diduga terlibat bom Bali 2002 itu tercium melakukan pertemuan dengan teroris kelompok Abu Sayyaf yang bermarkas di selatan Filipina, tepatnya di Provinsi Mindanao, 900 km dari Manila. Mengetahui hal itu militer Filipina langsung menyerbu lokasi.
Jet-jet tempur menjatuhkan bom-bom hingga sasaran hancur lebur. Sumber militer Filipina menyatakan bahwa Dulmatin turut tewas dalam serangan itu. Sementara, Jubir Angkatan Darat Filipina Kolonel Franklin del Prado menuturkan pada Associated Press (AP) bahwa dalam pertemuan yang digempur bom itu dihadiri pentolan Abu Sayyaf, Khadaffy Janjalani dan 3 anggota Jamaah Islamiyah (JI), termasuk Dulmatin. Sedangkan 2 lainnya diketahui bernama Maruan dan Mauyha, dinyatakan juga berasal dari Indonesia.
4 Agustus 2006
Dulmatin Tewas Dalam Gempuran Militer
Harian Philipine Star, kembali memberitakan dua teroris pelarian dari Indonesia, Dulmatin dan Umar Patek, yang diidentifikasi sebagai Maruan dan Mauyha tewas dalam peristiwa penyerangan udara militer Filipina ke kelompok Abu Sayyaf.
Saat terjadi penyerangan udara ke kawasan Manguindanao, Pulau Sulu, Filipina Selatan, keduanya disebutkan sedang mengadakan pertemuan dengan para anggota kelompok Abu Sayyaf, pimpinan Khaddafy dan Janjalani, Namun berita itu kemudian tidak terbukti.
Harian Phillipines Star kembali memberitakan Dulmatin terluka dalam bentrokan senjata antara pihak militer Filipina dengan militan Abu Sayyaf pada 16 Januari 2007. Berita itu lagi-lagi tidak terbukti. Spekulasi berita terhadap tersangka bom Bali ini, diduga karena iming-iming hadiah cukup besar dari Pemerintah Amerika Serikat bagi yang berhasil menangkap hidup atau mati buronan teroris tersebut.
20 Februari 2008
Militer Filipina Yakin Dulmatin Tewas
TEMPO Interaktif, Zamboanga: Militer Filipina hingga saat ini sangat meyakini mayat yang ditemukan Selasa lalu adalah Dulmatin, tersangka anggota Jamaah Islamiyah yang diduga terlibat Bom Bali I dan serangan teror di negara itu.
Keyakinan ini diperkuat oleh hasil tes yang dilakukan aparat keamanan Australia. “Lebih dari 90 persen, kami yakin mayat itu adalah Dulmatin,” kata seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.
Laboratorium kriminal Kepolisian Nasional Filipina saat ini sedang menguji gen (DNA) dari mayat itu dan dicocokkan dengan contoh DNA anak-anak Dulmatin yang diambil Mei tahun lalu.
Pihak militer juga memiliki Alfa Moha alias Bin sebagai saksi kunci. Warga asli Tawi-Tawi ini menyerahkan diri dua pekan setelah operasi militer 31 Januari lalu.
Menurut Laksamana Emilio Marayag, Komandan Angkatan Laut Mindanao Barat, Moha mengaku Dulmatin luka serius dalam baku tembak di daerah Lubok, Panglima Sugala, Tawi-Tawi.
Luka tembak di badan mayat itu juga sesuai dengan keterangan Moha, yakni di rusuk kanan, kaki kiri, alis, dan dada kanan. Namun, pihak militer masih harus menunggu hasil tes DNA yang akan keluar sepekan mendatang. “Kami harus menunggu hasil tes DNA untuk laporan akhir,” ujar Mayor Eugenio Batara, juru bicara Marayag.
Moha adalah putra dari seorang nelayan yang diajak bergabung dengan Dulmatin, namun ia tidak tahu kalau itu kelompok Abu Sayyaf. Ia mengaku ikut dengan buronan itu selama 25 hari.
9 Maret 2010
Dulmatin Dipastikan Tewas
Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan tim forensik Kedokteran Polri, dapat dipastikan bahwa salah satu dari tiga anggota teroris yang tewas di Pamulang adalah buronan paling dicari, yaitu Dulmatin alias Yahya Ibrahim alias Mansyur alias Joko Pitono.
”(Dipastikan) 100 persen dengan tingkat kekeliruan satu banding 100.000 triliun ini adalah betul bisa dipertanggungjawabkan secara profesional bahwa yang bersangkutan adalah Dulmatin,” ucap Kapolri saat jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (10/3/2010). Ikut mendampingi Kapolri dalam konferensi pers tersebut, Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani, Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi, Irwasum Polri Komjen Nanan Soekarna, Kadiv Humas Polri Irjen Edward Aritonang, Kapusdokes Polri Brigjen (Pol) Mussadeq, dan pejabat tinggi Polri lain.
Mussadeq menjelaskan, berdasarkan data sekunder dengan melihat satu lahi lalat di bawah bibir, bentuk alis mata, dan bentuk dagu jenazah diketahui menyerupai Dulmatin. Setelah itu, pihaknya mencocokkan foto wajah Dulmatin saat masih hidup dengan setelah tewas dan dihasilkan keduanya sesuai.
Lalu, kata dia, pihaknya melakukan pemeriksaan dengan data primer, yaitu pemeriksaan sidik jari dan DNA. Untuk sidik jari, Polri tidak memiliki data, sedangkan DNA Dulmatin telah tersimpan di database Polri. Meski telah memiliki data, pihaknya tetap mengambil DNA pembanding dua anggota keluarga Dulmatin, yaitu Ibu Hj Masniati (48) dan Ali Usman (12).
Sebelumnya, Dulmatin tewas di warnet Multiplus, Ruko Puri Pamulang Blok A No 6 di Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (9/3/2010) pukul 11.30 saat penggerebekan. Dulmatin terpaksa ditembak setelah mencoba melawan dengan menembakkan satu peluru dengan sejata api jenis revolver ke arah petugas. Dia meregang nyawa di depan layar komputer.
Readers Comments (0)